
Pengalaman Masa Ketjil / N St Iskandar / Dinas Penerbitan Balai Pustaka / 259 hal / cet. II / Djakarta, 1960.
Apa yang membuat saya tertarik untuk membawa buku ini, dan berniat menjadikannya penawar di kala sepi sendiri? Jawabannya tidak lain karena buku ini telah usang! ya, sebuah alasan yang absurd dan tak masuk akal! Buku ini berumur 49 tahun setelah cetakan yang kedua. Selayaknya buku usang; robekan, lipatan, lakban perekat dan warna kertas yang kecoklatan telah menjadi hiasan di tubuhnya. Hal itulah yang kemudian membuatnya terlihat unik, mistik, dan menarik!.
Tapi buku ini tidak renta kawan, sungguh. Tidak seperti manusia yang telah berumur umumnya. Buku ini segar dan tidak ketinggalan zaman. Saya berkesimpulan tentang pengaranya, N St Iskandar, bahwa ia seorang yang jujur, menerima dan berfikir jauh kedepan. Bayangkan, ia pasti menulis buku ini di akhir tahun 40-an, karena cetakan pertama di publish pada tahun 1948! Tapi isi dari buku ini dan pesan2 yang ingin disampaikannya masih cocok untuk di terapkan pada zaman sekarang.
Lalu apa sih sebenarnya yang ingin ia sampaikan dalam buku ini?? Pendidikan kawan, pendidikan, ya, pendidikan. Sekali lagi Pendidikan! (hihi..) Tentang tata cara mendidik yang benar terutama pada usia anak2 yang sedang belajar, tumbuh dan berkembang. Dengan cara yang elok, sang pengarang mengawali isi buku ini dengan bercerita tentang kisahnya waktu kecil.
Masa kecil penulis yang bengal diceritakan di awal hingga pertengahan buku ini, yang akhirnya sifatnya berubah (Bab IV. Perubahan). Tokoh utama dalam buku ‘Pengalaman Masa Ketjil’ ini bernama Manun, yang tak lain adalah sang penulis buku ini. Ia menjadi anak yang paling nakal di kampung dan di sekolahnya, bagaimana ia bolos selama 3 minggu, mencuri buah ranum, berkelahi, mengerjai orang tua yang nyiyir atau menentang bahaya. Semua itu dilakukan karena ia ingin merasa bebas merdeka dan menuruti suka hatinya. Ia tidak merasa senang berada dalam sekolah. Ia merasa berontak terhadap gurunya yang kejam (tidak mendidik secara benar, tidak dengan hati lembut tulus ikhlas, tapi dengan kekerasan sesuai kehendak hatinya, yang akhirnya malah menyakiti hati sang murid, dan berbekas hingga sang murid beruban!). Waktu itu pelajaran pendidikan ia terima dari kenakalan dan perenungan perbuatannya hingga pada akhirnya ia sendiri menjadi seorang pendidik. Profesi yang tidak di sangka olehnya.
Membaca buku ini kadang membuat saya tertawa sendirian, beberapa lama kemudian mengangguk-angguk, berfikir dan membenarkan. Tapi tak jarang juga ceritanya membuat saya menitikkan air mata merasakan sedih, lalu beberapa lama kemudian tersenyum bangga kepada tokoh utama atau si pengarang. Sebuah arahan emosi yang pas dari penulis untuk pembaca.
Penulis tidak secara langsung menyampaikan akan maksud ia menulis buku ini, buah pikirnya tentang pendidikan tidak semena-mena ia sampaikan secara pintar (memperlihatkan kepintaran si pengarang-red) di awal2 buku ini. Namun, sengaja, saya menduga sang pengarang sengaja membuat bentuk sebuah cerita yang asik dan menarik untuk menyampaikan betapa metode2 pendidikan yang ingin ia sampaikan itu layak dan benar, serta patut di terapkan dalam metode mendidik anak saat itu. Dan memang benar, kenyataanya dapat di lihat sekarang. Metode itu sangat berlaku sekarang!
Mungkin sedikit saya sampaikan secara umum metode pengajaran atau mendidik anak-anak usia yang sedang senangnya bermain tumbuh dan berkembang yang ingin penulis sampaikan, yaitu; mereka harus dididik dengan hati yang lembut, niat yang tulus, ikhlas, bersahabat, tidak menentang kemauan anak, menasihati secara halus, tidak dengan kekerasan, bentakan apalagi hinaan, dan perbanyak pujian lalu berikan penghargaan kepada mereka meski prestasi itu mulai muncul darinya (anak2-red) walau sedikit.
Dari caranya menuangkan ide dengan menulis buku ini saya yakin ia adalah sang pendidik (guru) sejati yang jujur, benar, menerima dan berfikir ke depan. Sebuah penyampaian tanpa kesan mengurui. Penyampaian yang sungguh patut diacungi banyak jempol! (kecuali jempol kaki tentunya!)
Dari penyampain bahasa yang rupawan dan sedikit nyastra dan juga dari latar ceritanya, saya tahu penulis lahir di negeri seberang, Padang, Sumatera Barat. (lalu apa maksudnya??) (gak ada! iseng aja!)
Bukti2 atau kutipan2 mengenai dialog2 cerita atau dari percakapan sendiri atau ide2 sang penulis, yang masih bisa di terapkan di masa sekarang bisa kalian langsung saja baca bukunya! ha3x! itu karena saya agak kesulitan memilih mana yang cocok untuk disampaikan di resensi buku ini. (atau malas ya..) (waktunya mepet, bung!) (huh alasan!)..
Oia, satu lagi, buku yang baru saja saya baca ini (jadi masih anget2 tai Ajam), masih menggunakan ejaan lama. Jadi membacanya sungguh asik, elok nian, menambah wawasan kesusasteraan kita, sang pembacanya! Beneran! Penulis juga mengakhiri bukunya dengan puisi yang menggetarkan! jadi buruan cari bukunya!!
Genre Book: Educate, Humaniora, real ancient history
Recomended For: Guru, Dosen, Parent, ustadz (para pendidik)
Untuk Pecinta : Biografi